Secara historis Si Raja Batak bukan person tunggal, tetapi Si Raja Batak adalah moyang hipotetis, moyang yang menurunkan marga-marga. Marga adalah identitas Batak yang paling umum diketahui. Kiranya tidak ada orang Batak yang malu memakai marganya sebagai identitasnya. Marga mengartikan hubungan darah (genealogis) yang sama dan mempunyai leluhur yang sama berdasarkan keturunan garis pancar laki-laki (patrilini). Orang Batak selalu memelihara silsilah (tarombo) dan dapat menelusuri leluhurnya mungkin sampai belasan generasi sampai kepada leluhur yang sama yang disebut Si Raja Batak. Tradisi bersilsilah ini diwariskan secara lisan turun temurun. Si Raja Batak secara historis tidak mungkin satu person, satu orang saja, tetapi beberapa orang. Kelompok orang ini adalah pelopor yang membangun suatu sistem sosial dan hidup di Sianjur mula-mula, Samosir, dikaki bukit menghadap gunung keramat Pusuk Buhit. Disini harus dibedakan antara silsilah yang historis dan silsilah mitos (spiritual). Pikiran yang mencampur-adukkan mitos dan sejarah biasanya akan dibelit oleh keruwetan dan terperosok pada tribalisme. Disebutkan dalam turi-turian (legenda/mitos) Si Raja Batak memiliki dua anak, Guru Tatea Bulan (Ilontungan) dan Raja Isumbaon (Sumba). Inilah dua belahan besar silsilah asal marga-marga. Guru Tatea Bulan mempunyai 5 anak dan 4 puteri. Anak lelaki adalah, Raja Biak-biak, Sariburaja, Limbongmulana, Sagalaraja dan Malauraja. Si anak sulung, Raja Biak-biak yang juga dalam silsilah mitos disebut Raja Uti lalu gaib ke langit barat-ke Barus. Sariburaja dikisahkan berhubungan terlarang dengan Borupareme, saudaranya sendiri ( incest) sehingga diusir adik-adiknya harus angkat kaki jauh meninggalkan Sianjur Mula-mula. Boru Pareme yang hanya mengandung satu bulan lalu melahirkan anak dari hasil incest ialah Raja Lontung, memakai nama kakeknya Ilontungan, tetap tinggal . Keturunan Raja Lontung adalah berturut-turut Situmorang, Sinaga, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Siregar, Aritonang yang menjadi nama-nama marga. Dicatat dalam sejarah silsilah, kelompok marga Simatupang, Siregar dan Aritonang membuka lahan baru, migrasi dari Samosir ke Muara. Kelompok belahan besar Lontung yang dalam perkembangan percaturan Toba lama membentuk solidaritas bersama dalam kelompok Tatea Bulan atau kelompok Lontung. Raja Isumbaon (Raja Sumba) sebagai belahan besar kedua dari si Raja Batak menurunkan 3 putra, Sorimangaraja, Raja Asi-asi dan Sangkarsomalidang . Raja Asi-asi dan Sangkarsomalidang diriwayatkan pergi ke tano Jau dan selanjutnya tidak disebut silsilahnya. Sorimangaraja beristri 3 yaitu Tuan Nai Ambaton, Nai Rasaon dan Nai Suanon. Dari Nai Ambaton melahirkan marga-marga Simbolon, Munte, Tambatua, Saragitua, Sianahampung, Haro, beserta cabang-cabangnya. Dari Nai Rasaon adalah marga-marga Purba, Tanjung, Mangareak (Manurung), Sitorus (Sitorus, Sirait, Butar-butar). Kemudian Nai Suanon melahirkan Tuan Sorbadibanua dan Raja Tunggul. Tuan Sorbadibanua melahirkan dua kelompok marga besar dari dua isteri yaitu dari istri pertama Nai Antingmalela dan kedua Boru Sibasopaet. Dari Nai Antingmalela dilahirkan kelompok-kelompok marga Sibagot ni Pohan, Sipaettua, Silahisabungan dan Si Raja Oloan dan Raja Hutalima, sedang dari Boru Sibasopaet diturunkan kelompok marga Raja Sobu, Raja Sumba (Tuan Sumirham) dan Naipospos. Kedua kelompok diatas berikutnya migrasi keluar desa asal Sianjur Mula-mula selanjutnya masing-masing mengklaim kedaulatan teritorialnya. Penentuan batas kekuasaan dan kedaulatan tampak pada peta kedudukan marga-marga sekarang ini di wilayah daratan pulau di tengah danau, Pulau Samosir. Sebenarnya sebutan pulau Samosir kita kenal karena disebut demikian oleh Belanda sejak tahun 1908, nama yang mengambil nama desa di ujung pulau. Dalam peta kolonial sebelumnya malah menyebutnya Pulo Toba, sedang peta Toba lama tidak ada penamaan demikian. Orang Batak tidak menyebutnya ‘pulo’ karena memang tadinya bukan pulau. Dahulu orang dari pantai danau sebelah utara misalnya di Haranggaol akan memanggilnya Tano ni Sumba (Tanah milik Sumba), sedang orang di selatan danau, misalnya di Muara mengenal daratan di tengah sebagi Tano ni Lontung (Tanah milik Lontung). Hal ini tidak aneh karena memang Samosir dihuni kedua kelompok masing-masing di Samosir utara oleh kelompok Sumba dan Lontung di Samosir selatan. Ada garis pembagi imajiner membujur dari timur ke barat ialah titik dari timur (selatan Tomok) ditarik garis lurus ke barat ke suatu titik di Palipi. Inilah migrasi pertama, yang selanjutnya dibawah bendera masing-masing bergerak lagi ke seluruh Toba, memperluas wilayah kedaulatan, bersaing untuk memperkuat pengaruh. Wilayah Sumba ialah yang terluas tanah pertaniannya dan paling banyak penduduknya. Sumba menguasai 3/5 dari seluruh wilayah Toba, mencakup Pulau Samosir Utara (kecuali Limbong-Sagala dan Harian), lembah-lembah pantai Barat danau, Toba Holbung, dataran tinggi Humbang, Silindung dan sekitarnya. Di pihak lain Lontung mengibarkan panji di Samosir selatan, ke lembah Muara dan Pulau Sibandang yang diapit dua lembah kekuasaan Sumba (lembah Bakkara dan Meat), bahkan nantinya sampai ke Sipirok. Keturunan dari Tatea Bulan yang disebut dimuka tinggal di Limbong, Sianjur mula-mula ialah Limbongmulana, Sagalaraja dan Malauraja melahirkan marga Limbong, Sagala , Malau dan marga-marga turunannya yang selanjutnya juga bermigrasi ke luar dari lembah Limbong. Mereka kelompok kecil dibanding dengan Lontung dan Sumba, meski demikian punya klaim khusus tertentu karena wilayahnya adalah asal mula Si Raja Batak di lembah Limbong Sagala di kaki bukit keramat Pusuk Buhit. Dalam perantauan Sariburaja kawin dengan Nai Mangiringlaut dan melahirkan anak yaitu Si Raja Borbor. Raja Borbor menurunkan marga-marga Pongpang Balasaribu yaitu Pasaribu, Harahap, Tanjung, Pulungan, Lubis, Rambe dll. Kelompok Borbor ini kebanyakan bermukim ke arah Barat, ke Barus, juga ke Angkola Mandailing. Borbor erat kaitannya dengan kronik silsilah Raja-raja Barus.(ama pardomuan) <<< sebelumnya
 | wah-wah thanks buat Ama Pardomuan, jadi inget lagi dech. aku kopi yach buat dokumen pribadi |
 | sondanglaw wrote on Aug 21, '07, edited on Aug 22, '07 sama-sama ito..pls note all reference to my posts will put in the endnote |
 | Aku juga ngopi yah, untuk arsip pengetahuanku. |
 | Terbesit niat harus melihat sendiri pusuk buhit Menginjakkan kaki di Huta ni Si Raja Batak. semoga segera terealisasi. |
 | Nice... walaupun historically weak, informasi seperti ini sangat bermanfaat.
Thanks for writing. |
 | mitos memang bukan history |
 | wsaragih wrote on Aug 23, '07, edited on Aug 23, '07 Ah.. tetapi di awal anda menyatakan bahwa ada unsur historis di sana, itu yang menarik bagi saya untuk ditelusuri.
Tetapi justru that's the point Pak. Karena orang menganggap remeh hal2 yang beginian, jadinya malah tidak well documented.
Usaha Bapak mendokumentasikan hal ini di multiply akan sangat berarti bagi budaya kita di Indonesia secara umum. |
 | sondanglaw wrote on Aug 23, '07, edited on Aug 23, '07 terimakasih wsaragih.. Justru saya sebut BUKAN..."Secara historis si Raja Batak BUKAN seorang person tunggal", tapi sekelompok orang, mungkin puluhan atau ratusan.. Merekalah nenek moyang orang Batak Jadi penggunaan kata sandang 'SI' , yang artinya menunjuk satu orang adalah mitos..Makanya saya sebut silsilah mitos atau lebih halus 'silsilah spiritual' sebagaimana disebut Sitor Situmorang..(see my previous posts) Banyak mitos leluhur batak yang diterima oleh keturunannya. Ini tidak bisa dibuktikan secara historis tapi diyakini keberadaan sang tokoh leluhur dengan segala kisah keperkasaannya. Kisah-kisah ini diwariskan berdasarkan tradisi lisan turun temurun.. Mitos disini tidak dalam pengertian jelek.. Ia dibutuhkan baik orang dulu maupun zaman digital. hoping it may clarify the thing..thk u.. |
 | ternyata aku masih bingung soal silsilah ini, makasih untuk infonya |
 | setauku, dulu aku perna lihat peta SI RAJA BATAK. kira2 lae sekalian ada yg punya mungkin. Tolong di post yah..
Mauliate Godang.. |
 | ada yang punya peta itu ? |
 | monan wrote on Sep 18, '07, edited on Sep 18, '07 coba kita kaitkan dengan kerajaa PATA di Sumatera Selatan pada abad I da serangan raja COLA III dari mongolia ke tanah Deli apa bisa untuk membantu membuka siapa sebenarnya orang Batak & asal Usulnya karena sampai sekarang susah untuk dimengerti karena yang banyak kita dengar cerita tanpa ada pembuktian yg bersejarah. |
 | ...."Dari Nai Rasaon adalah marga-marga Purba, Tanjung, Mangareak (Manurung), Sitorus (Sitorus, Sirait, Butar-butar). Kemudian Nai Suanon melahirkan Tuan Sorbadibanua dan Raja Tunggul. Tuan Sorbadibanua melahirkan dua kelompok marga besar dari dua isteri yaitu dari istri pertama Nai Antingmalela dan kedua Boru Sibasopaet.
Dari Nai Antingmalela dilahirkan kelompok-kelompok marga Sibagot ni Pohan, Sipaettua, Silahisabungan dan Si Raja Oloan dan Raja Hutalima, sedang dari Boru Sibasopaet diturunkan kelompok marga Raja Sobu, Raja Sumba (Tuan Sumirham) dan Naipospos. " ....
Apakah Nai Antingmalela boru Manurung? Alana manjou Tulang do Silahisabungan tu Manurung. Inna alani bona niari na.
(Butuh pencerahan bah...)
..."Dari Nai Rasaon adalah marga-marga Purba, Tanjung, Mangareak (Manurung), Sitorus (Sitorus, Sirait, Butar-butar).".....
Pas pesta Toga Manurung di siBisa kok gak ada diterangkan ya tentang Purba dan Tanjung? Cuma Manurung (Hutagurgur, Hutagaol, Manoroni), Sitorus (Dori, Boltok, ...), Sirait, Butar-butar. Gimana ya...?
|
 | ...."Dari Nai Rasaon adalah marga-marga Purba, Tanjung, Mangareak (Manurung), Sitorus (Sitorus, Sirait, Butar-butar). Kemudian Nai Suanon melahirkan Tuan Sorbadibanua dan Raja Tunggul. Tuan Sorbadibanua melahirkan dua kelompok marga besar dari dua isteri yaitu dari istri pertama Nai Antingmalela dan kedua Boru Sibasopaet.
Dari Nai Antingmalela dilahirkan kelompok-kelompok marga Sibagot ni Pohan, Sipaettua, Silahisabungan dan Si Raja Oloan dan Raja Hutalima, sedang dari Boru Sibasopaet diturunkan kelompok marga Raja Sobu, Raja Sumba (Tuan Sumirham) dan Naipospos. " ....
Apakah Nai Antingmalela boru Manurung? Alana manjou Tulang do Silahisabungan tu Manurung. Inna alani bona niari na.
(Butuh pencerahan bah...)
..."Dari Nai Rasaon adalah marga-marga Purba, Tanjung, Mangareak (Manurung), Sitorus (Sitorus, Sirait, Butar-butar).".....
Pas pesta Toga Manurung di siBisa kok gak ada diterangkan ya tentang Purba dan Tanjung? Cuma Manurung (Hutagurgur, Hutagaol, Manoroni), Sitorus (Dori, Boltok, ...), Sirait, Butar-butar. Gimana ya...?  Keturunan Silahisabungan manjou tulang ke Manurung, mungkin karena istri ke 3 Silahisabungan ialah putri dari Raja Mangarerak(Manurung) dan melahirkan Raja Tambun(Tambunan) dan jadi Tambunan yg 'martulang' ke Manurung dan mungkin diikuti juga oleh abang si Raja Tambun lainnya(keturunan Silahisabungan). |
 | Bener banget nih si babiat, emang silahisabungan punya 3 hula-hula : 1. Pintahaomasan boru baso Nabolon (putri Sorbadijulu/Ambaton/Ompu Bolon), melahirkan Silahi Raja, selanjutnya keturunannya bermarga Silalahi. 2. Pingganmatio Boru padang batanghari (Boru Pakpak/Dairi), melahirkan Sihaloho Cs 3. Boru Melengmeleng (Boru raja Mangarerak), melahirkan si Raja Tambun.
Okay, hopefully usefull.
Silalahi |
 | Raja Isumbaon (Raja Sumba) sebagai belahan besar kedua dari si Raja Batak menurunkan 3 putra, Sorimangaraja, Raja Asi-asi dan Sangkarsomalidang. Raja Asi-asi dan Sangkarsomalidang diriwayatkan pergi ke tano Jau dan selanjutnya tidak disebut silsilahnya. Sorimangaraja beristri 3 yaitu Tuan Nai Ambaton, Nai Rasaon dan Nai Suanon. Dari Nai Ambaton melahirkan marga-marga Simbolon, Munte, Tambatua, Saragitua, Sianahampung, Haro, beserta cabang-cabangnya. Dari Nai Rasaon adalah marga-marga Purba, Tanjung, Mangareak (Manurung), Sitorus (Sitorus, Sirait, Butar-butar). Kemudian Nai Suanon melahirkan Tuan Sorbadibanua dan Raja Tunggul. Tuan Sorbadibanua melahirkan dua kelompok marga besar dari dua isteri yaitu dari istri pertama Nai Antingmalela dan kedua Boru Sibasopaet. Dari Nai Antingmalela dilahirkan kelompok-kelompok marga Sibagot ni Pohan, Sipaettua, Silahisabungan dan Si Raja Oloan dan Raja Hutalima, sedang dari Boru Sibasopaet diturunkan kelompok marga Raja Sobu, Raja Sumba (Tuan Sumirham) dan Naipospos.
saran saya...sebelum mengatakan bahwa nai rasaon itu adalah seorang istri. sebaiknya anda konfirmasi dulu ke sibisa dan melihat sendiri tugunya....agar tidak membingungkan. satu hal lagi, penulisan nai rasaon tidak dipisah tapi disatukan menjadi nairasaon. Horas |
Comment deleted at the request of the thread owner.
| |